D’Goendoe Goendoe Cafe (Dapur Apel Goendoe) Batu

Sudah tahu belum kalau di Batu cafe baru yang bernama D’Goendoe Goendoe Cafe (Dapur Apel Goendoe). Cafe ini sangat unik loh, karena dibanngun dengan konsep yang berbeda dari cafe-cafe umumnya. Cafe ini dibangun di area kebun apel, sehingga berada di cafe ini kamu dapat menikmati panorama kebun apel yang enak dipandang.

Selain kebun apel yang menjadi panoramanya, ada juga tanaman jenis lainya, serta bunga-buga mawar yang mendukung keindahan panorama cafe ini. Menariknya lagi, tersedia tempat duduk (tempat ngopi) di lantai atas, tempat ini sangat bagus sebagai angle untuk menyaksikan keindahan alam dengan jangkauan yang sangat luas. Tampak jelas pemandanan Gunung Panderman dari tempat ini.

Jika dilihat dari luar, cafe ini tampil dengan desain yang biasa-biasa saja. Namun ketika sudah masuk ke dalam area cafe, maka akan tersaji keindahan alam serta berbagai keunikan yang ada, mulai dari tempat duduk yang terbuat dari kayu, terdapat aneka spot foto keren, ada juga relief-relief yang artistik, serta suasana yang asri karena dikelilingi tanaman hujau yang alami.

D’Goendoe Goendoe Cafe ini dibuka belum lama, namun sudah mampu menarik perhatian masyarakat. Khususnya bagi para penikmat kopi yang senang berburu tempat-tempat ngopi yang cozy, salah satunya cafe ini yang memiliki suasana cozy banget.

Lokasi D’Goendoe Goendoe Cafe (Dapur Apel Goendoe) ini terletak di Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji, Batu, Jawa Timur. Cafe ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang asik, misalnya seperti; live music, free wifi, gazebo, spot foto, dan lain sebagainya. Jika kamu merasa penasaran, maka langsung saja dikunjungi ya.

Kue Adrem, Legitnya Jajanan Tradisional Khas Bantul

Bukan cuma dianugerahi kekayaan alam yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Indonesia juga memiliki warisan kuliner yang kaya lho. Mulai dari jajanan sampai hidangan khas yang dijamin bakal bikin lidah bergoyang, bisa kamu temui di berbagai pelosok negeri.

Nah, buat kamu yang suka berburu kuliner khas nusantara. Mencoba jajanan tradisional wajib hukumnya, karena dari situ kamu bisa ikut melestarikan warisan kuliner negeri. Kali ini, kamu akan diajak untuk mampir ke Bantul.

Seperti yang kamu tahu, Bantul adalah sebuah kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta. Daerah ini bisa dibilang sangat padat wisatawan, karena memiliki banyak destinasi yang menarik untuk dikunjungi. Sebut saja beberapa destinasi wisata terkenal seperti Pantai Parangtritis, Imogiri, Hutan Pinus Mangunan, Taman Sari, Bukit Bintang, dan masih banyak lagi.

Tak heran jika akhirnya Bantul menjadi salah satu tujuan wisatawan jika berlibur ke Jawa Tengah, khususnya Yogyakarta. Selain punya banyak destinasi indah, kuliner khas Bantul juga sangat diminati. Salah satu yang wajib kamu coba adalah kue adrem.

Penduduk Bantul juga kerap menyebut adrem dengan panggilan tholpit. Jajanan ini memiliki rasa manis dan legit. Hal ini karena adrem dibuat dari tepung beras, kelapa parut, dan gula Jawa, yang kemudian dimasak dengan cara digoreng. Kamu bisa menemukan makanan ringan ini di pasar-pasar tradisional di sekitaran Bantul atau di Sanden, yang menjadi pusat produksi adrem.

Punya rasa yang legit, adrem juga dikenal dengan bentuknya yang unik. Saat hendak digoreng, kue adrem dijepit dengan bilah bambu, sehingga menghasilkan bentuk unik tersebut. Jajanan ini sangat pas jika kamu santap bersama secangkir kopi atau teh. Dijamin pasti bikin ketagihan, sebab rasanya yang nikmat.

Menariknya, kue adrem ternyata sangat populer di era tahun 80 sampai 90-an. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, adrem semakin tergeser oleh popularitas kue lain yang lebih modern. Meski demikian, masyarakat Bantul tetap setia untuk menyantap kue ini sebagai camilan di pagi dan sore hari. Tertarik untuk mencicipinya?

Kemegahan Candi Prambanan Dan Misteri Kisah Rara Jonggrang

Akhir tahun telah tiba, kini waktunya untuk menyusun rencana liburan baru. Ingin pergi ke mana, kawan? Mungkin Anda dan keluarga tertarik untuk mengunjungi tempat-tempat wisata bersejarah di Indonesia. Salah satunya adalah Candi Prambanan. Yap, siapa yang tak mengetahui kemegahan Candi Prambanan. Bahkan, UNESCO saja telah memasukkannya sebagai salah satu Situs Warisan Dunia.

Candi Hindu terbesar di Indonesia ini diperkirakan dibangun pada abad ke-9 Masehi oleh Rakai Pikatan. Para sejarawan menilai tindakannya sebagai upaya untuk menyaingi pembangunan Candi Borobudur. Jika Anda berkunjung ke Yogyakarta, jaraknya mungkin kurang lebih 17 kilometer di arah timur laut. Atau bila posisi Anda saat itu ada di Surakarta, jaraknya ke Candi Prambanan sekitar 50 kilometer.

Dikenal sebagai salah satu candi terindah di Asia Tenggara, Prambanan ternyata juga menyimpan kisah cinta yang berakhir tragis. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, pembangunan candi ini juga berkaitan dengan kisah seorang putri jelita bernama Rara Jonggrang. Usut punya usut, nama Rara Jonggrang sendiri memiliki makna tersendiri yakni gadis langsing.

Dahulu kala Prabu Baka, ayah dari Rara Jonggrang, menyerukan perang terhadap Kerajaan Pengging yang dipimpin oleh Prabu Damar Maya, ayah dari Raden Bandung Bondowoso. Sempat kalah dalam serangan tersebut, Prabu Damar Maya kemudian memerintahkan Bandung Bondowoso untuk melawan Prabu Baka. Dia pun berhasil menang dan membunuhnya. Mengetahui kematian sang raja, Patih Gupala kembali pulang ke kerajaan untuk mengabarkannya kepada Rara Jonggrang.

Ketika Bandung Bondowoso menyerbu ke dalam Keraton Baka, dia untuk pertama kalinya bertemu dengan Rara Jonggrang. Kecantikan sang putri ternyata membuat hatinya langsung luluh. Dia pun menyampaikan niatnya untuk mempersunting gadis itu. Namun lamarannya langsung ditolak karena Rara Jonggrang tidak mau menikah dengan orang yang sudah membunuh ayahnya.

Namun Bandung Bondowoso terus memaksanya dan akhirnya Rara Jonggrang menyetujuinya dengan dua syarat, yaitu dia harus bisa membangun sumur Jalatunda dan seribu candi hanya dalam waktu semalam. Tetapi karena tipu muslihat yang dilakukan oleh Rara Jonggrang, rencana Bandung Bondowoso akhirnya gagal, dan sang putri pun dikutuk oleh pangeran tersebut menjadi batu untuk menggenapi candi yang masih berjumlah 999.

Pesona Air Terjun Tumpak Sewu, Si Niagara-nya Indonesia

Kenapa dinamakan Tumpak Sewu? Nama itu didasarkan pada jumlah sumber mata air di air terjun tersebut. Karena jumlah mata airnya sangat banyak, penduduk sekitar kemudian menamainya Tumpak Sewu atau Coban Sewu, atau sering juga disebut Grojogan Sewu.

Untuk menikmati pemandangan Tumpak Sewu dari atas, pengunjung bisa naik ke Pos Panorama. Kamu hanya perlu berjalan sejauh 400 meter untuk mencapai pos tersebut. Nah, dari atas pos itu, kamu bisa menyaksikan keindahan Tumpak Sewu secara keseluruhan. Jadi, baiknya jangan lupa untuk menyiapkan baterai full ya, agar tak kehilangan momen berfoto dengan latar Tumpak Sewu yang megah tersebut.

Setelah menikmati panorama Tumpak Sewu dari atas, kini saatnya kamu turun ke lembah air terjun. Sedikit informasi, kamu harus menggunakan jasa pemandu untuk melakukannya karena jalur trekking yang dilewati cukup terjal. Jika sudah sampai di bawah, kamu bisa menikmati bagaimana derasnya air terjun tersebut.

Semakin penasaran untuk mbolang ke air terjun ini? Pintu gerbang Tumpak Sewu biasanya dibuka sekitar pukul 08.00 sampai 15.00 WIB ya. Selain menikmati keindahan spot air terjun, kamu juga direkomendasikan untuk mampir ke agrowisata salak yang ada di dekat situ.